Karebasulawesi, Takalar — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar kegiatan Internalisasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 melalui forum Kajian Senin Kamis (KSK), pada Rabu (25/6/2026).
Kegiatan ini menjadi sarana diseminasi hasil survei sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga ketahanan masyarakat Sulawesi Selatan dari pengaruh radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.
Hasil Survei IPR Tahun 2025 menunjukkan capaian yang menggembirakan bagi Sulawesi Selatan. Nilai Indeks Potensi Radikalisme tercatat sebesar 12,4, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 14,5.
Penurunan tersebut terjadi pada dimensi pemahaman, sikap, dan tindakan yang menjadi indikator penting dalam mengukur potensi penyebaran paham radikal di tengah masyarakat.
Dalam sambutan Direktur Pencegahan BNPT RI yang dibacakan oleh Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, disebutkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai elemen masyarakat dalam membangun ketahanan sosial dan memperkuat nilai toleransi.
“Penurunan Indeks Potensi Radikalisme di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa berbagai upaya pencegahan yang dilakukan secara kolaboratif telah memberikan hasil yang positif,” ujarnya.
“Namun demikian, tantangan yang berkembang di ruang digital menuntut kita untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya generasi muda,” tambahnya.
Sementara itu, Peneliti FKPT Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa, salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan indeks tersebut adalah kuatnya budaya lokal yang masih terjaga di tengah masyarakat.
Nilai-nilai kearifan lokal seperti sipakatau (saling menghargai), sipakainge (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling memuliakan) dinilai mampu memperkuat toleransi dan kohesi sosial di tengah keberagaman masyarakat Sulawesi Selatan.
“Kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Sulawesi Selatan merupakan benteng sosial yang sangat kuat. Nilai saling menghormati, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap penurunan indeks tahun ini,” jelas Peneliti FKPT Sulawesi Selatan.
Meski demikian, hasil survei juga mengungkap sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Tingginya penggunaan internet dan media sosial, terutama di kalangan generasi muda, dinilai membuka peluang masuknya berbagai narasi intoleransi.
Selain itu, ujaran kebencian, hingga propaganda ekstremisme yang dikemas secara halus melalui berbagai platform digital. Kondisi tersebut menuntut peningkatan literasi digital dan penguatan pemahaman kebangsaan di masyarakat.
Sementara itu, Anggota Tim Reviu Survei IPR Tahun 2025, Lilik Purwandi, mengingatkan bahwa ancaman radikalisme saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali.
“Kelompok yang perlu mendapatkan perhatian adalah generasi muda, masyarakat yang sangat aktif di media sosial, serta mereka yang intens mencari dan menyebarkan konten keagamaan di internet,” terang Lilik.
Karena itu kata dia, literasi digital, moderasi beragama, wawasan kebangsaan, dan penguatan keluarga menjadi faktor yang sangat penting untuk memperkuat daya tangkal masyarakat.
BNPT dan FKPT Sulawesi Selatan berharap keberhasilan menurunkan IPR dapat menjadi momentum untuk terus memperkuat upaya pencegahan melalui kolaborasi multipihak, sehingga Sulawesi Selatan tetap menjadi daerah yang aman, damai, toleran, dan tangguh menghadapi tantangan radikalisme di era digital. (*)















